Rezeki Allah Selalu Cukup Untuk Hidup Tapi Tidak Dengan Gaya Hidup - Shaliha Hijab

Rezeki Allah Selalu Cukup Untuk Hidup Tapi Tidak Dengan Gaya Hidup

2 tahun yang lalu      Pribadi Muslimah

Setinggi apapun pangkat atau jabatan seorang wanita menjadi ibu rumah tangga yang merawat keluarga dan mendidik anak merupakan tanggung jawab terbesarnya.

Jangan sampai karena mengejar karir anak-anak terabaikan ya Ukhti, sehingga anak merasa tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya.

Boleh-boleh saja wanita bekerja, Islam pun tidak melarang seorang muslimah untuk bekerja, bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk gandum. Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi Ayub tengah sakit, juga ada berbagai contoh bagaimana muslimah mengambil peran dalam turut memenuhi kebutuhan keluarga.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده، وهي مسئولة عنهم، والعبد راع على مال سيده، وهو مسئول عنه، فكلكم راع مسئول عن رعيته


“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.
Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka.
Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut.
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).


 

Yang dimaksud dengan (رَاعٍ ) adalah seseorang yang dikenai tanggung jawab untuk menjaga sesuatu perbuatan, dan diberi amanah atas perbuatan tersebut, serta diperintahkan untuk melakukannya secara adil.
(Lihat Bahjatun Nadzirin I/369)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
Seorang istri merupakan pemimpin yang menjaga di rumah suaminya dan akan ditanya tentang penjagaanya. Maka wajib baginya untuk mengurusi rumah dengan baik, seperti dalam memasak, menyiapkan minum seperti kopi dan teh, serta mengatur tempat tidur.

Janganlah ia memasak melebihi dari yang semestinya. Jangan pula ia membuat teh lebih dari yang dibutuhkan. Ia harus menjadi seorang wanita yang bersikap pertengahan, tidak bersikap kurang dan tidak berlebih-lebihan, karena sikap pertengahan adalah separuh dari penghidupan. Tidak boleh melampaui batas dalam apa yang tidak sepantasnya.

Istri juga memiliki tanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam mengurus dan memperbaiki urusan mereka, seperti dalam hal memakaikan pakaian, melepaskan pakaian yang kotor, merapikan tempat tidur. Setiap wanita akan ditanya tentang semua itu. Dia akan ditanya tentang urusan memasak, dan ia akan ditanya tentang seluruh apa yang ada di dalam rumahnya.”
(Lihat Syarh Riyadhis Shalihin II/133-134)

Dengan demikian, tugas seorang istri selaku pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya adalah memegang amanah sebagai pengatur urusan dalam rumah suaminya serta anak-anaknya.
Menomor satukan kepentingan keluarga di atas kepentingan karir dan jabatan semata.
.
.
----

Shaliha Hijab

lebih anggun dalam anggun dalam kesederhanaan

Sumber Gambar : Gamis Zainab & Pashmina Humairah




Komentar Artikel "Rezeki Allah Selalu Cukup Untuk Hidup Tapi Tidak Dengan Gaya Hidup"